Coretan dari Seminar Parenting MI Luqman al-Hakim Slawi | 17 Oktober 2026
@dwibudiyanto
Seorang ayah tidak harus menampilkan dirinya sebagai superhero untuk setiap masalah yang dihadapi anak-anak. Cinta dan kasih sayang seorang ayah tidak berarti ia harus selalu berada di depan untuk merampungkan persoalan yang dialami anak-anak. Adakalanya seorang ayah memilih agar anak-anak menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya secara mandiri.
Ini tidak berarti tidak peduli. Karena sangat peduli itulah, seorang ayah memilih agar anak-anak memiliki kemampuan mengelola tekanan sekaligus krisis yang dihadapi dengan efektif. Ini perlu latihan. Dan setiap peristiwa problematik yang dialami anak-anak sesungguhnya dapat menjadi medan latihan itu. Kemampuan menyelesaikan masalah, mengelola tekanan, dan menghadapi krisis tidak terbentuk secara instan.
Sayangnya, dalam banyak kasus, kita luput untuk menyiapkan anak-anak agar memiliki kemampuan mengelola masalah. Kita ingin selalu menjadi superhero atas setiap masalah yang dialami anak. Suatu saat seorang ayah mendapat kabar kalau anaknya dirundung di sekolah. Ia tidak terima. Ia luapkan rasa jengkelnya pada teman anaknya. “Besok ayah datang ke sekolah. Kamu tenang saja. Siapa nama temanmu?” Anaknya menyebutkan sebuah nama.
Ia mengkritik semua pihak yang dianggapnya abai sehingga luput mengawasi anak-anak. Dalam percakapan di rumah, ia menyalahkan guru yang dianggapnya membiarkan perundungan berlangsung di sekolah. Esoknya ia datang lebih awal di sekolah. Berdiri de depan gerbang sekolah bersama anaknya. Ketika teman anaknya yang diduga merundung datang, ia datangi anak itu. Lelaki dewasa itu menghardik, “Kamu yang kemarin merundung anakku ya? Jangan diulang kalau kamu tidak ingin dapat masalah!”
Anak itu tentu saja gemetar. Ia tidak menyangka akan dihadang orang dewasa pagi itu. Persoalan terlihat selesai. Padahal sebenarnya persoalan baru baru saja diciptakan oleh sang ayah. Anak-anak tidak memiliki kesempatan untuk belajar menangani persoalan yang mereka hadapi. Anak-anak tidak terlatih meregulasi emosi setiap berhadapan dengan tekanan. Kemampuan mengelola stres dan menyelesaikan masalah tidak berkembang. Kompetensi komunikasi sosial untuk mengurai konflik tidak terasah dengan baik. Semua bermula karena ayah ingin tampil sebagai superhero yang selalu merampungkan masalah-masalah yang dihadapi anak.
Para ayah tidak harus selalu tampil sebagai superhero. Kepedulian dan rasa cinta seorang ayah dapat diwujudkan dengan menjadikan setiap peristiwa problematik yang dihadapi anak sebagai ruang pembelajaran yang menumbuhkan kapasitas anak. Ketika anak-anak berkonflik dengan temannya, para ayah dapat memilih mendampingi anak untuk menyelesaikan persoalannya sendiri. Persoalan itu yang menghadapai dan menyelesaikan anak. Jika itu terjadi di sekolah, orangtua terkait bersama guru mendampingi dan memantau bagaimana anak-anak merampungkan konflik di antara mereka dengan cara-cara yang tepat.
Para ayah tidak harus tampil dengan sumbu pendek. Ia tidak harus tampil meledak-ledak dan hiperkritis terhadap pihak lain. Sikap seperti itu akan diamati anak-anak dan sangat disayangkan jika suatu saat cara seperti itulah yang dipelajari anak dari ayah mereka. Dengan berdialog yang baik ayah memandu anak untuk mengurai masalah yang dihadapi, memetakan tingkat resiko yang dialami, merancang solusi yang dapat ditempuh, dan memandu anak untuk dapat berkomunikasi dengan pihak-pihak terkait. Anak-anak dipandu menghadapi masalah dengan cara yang lebih matang.
Inilah pilihan ayah untuk hari-hari ke depan anaknya. Sebab, tidak selamanya seorang ayah akan hadir 24 jam bagi anak-anaknya. Suatu saat ada masanya mereka akan perpisah dengan orangtuanya dan harus menghadapi masalah-masalahnya sendiri. Itulah sebabnya, sejak awal anak-anak perlu dilatih oleh ayah mereka untuk menghadapi peristiwa-peristiwa problematik yang dihadapi dengan lebih matang. Kedewasaan anak tidak terjadi karena mereka steril dari masalah. Kedewasaan mereka terlihat pada bagaimana mereka menghadapi berbagai masalah.
Ada pelajaran yang menarik dari kisah Nabi Yusuf a.s. Ketika ia bercerita tentang mimpi yang dialaminya. Sang ayah memandu Yusuf a.s. untuk memitigasi potensi konflik sekaligus mengarahkan langkah yang dianggap strategis. Saya membayangkan perbincangan-perbincangan yang menguatkan jiwa, mengokohkan nalar, dan meneguhkan keimanan sering dilakukan antara Yusuf dengan ayahnya. Oleh karena itu, ketika takdir menentukan ia harus berpisah dari keluarga, ia memasuki medan kehidupan yang sangat nyata.
Yusuf harus menghadapi banyak masalah dan ujian, yang mesti dihadapinya sendiri. Saat masalah-masalah itu datang silih berganti, tak ada ayah “superhero” di dekatnya. Ia harus menghadapi persoalan demi persoalan itu sendiri. Dan kita memahami bahwa Nabi Ya’qub, sang ayah, telah menyiapkan anaknya untuk menghadapi masa-masa itu. Yusuf menjadi pribadi yang memesona bukan karena tidak menghadapi masalah. Ia menjadi pribadi yang mengagumkan karena keyakinan dan kemampuannya menghadapi berbagai masalah. kehadiran ayah untuk membersamai anak-anak menghadapi masalahnya sendiri akan membentuk kematangan anak-anak. []

